Cukup beruntung masjid kami hari Jumaat ini.Seorang wakil gubernur mampir untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.Pada awalnya saya mengira-ngira siapa yang akan datang,di lihat dari ruas jalan menuju masjid ada dua aparat keamanan dari kepolisian dan tentara.Biasanya kalau ada aparat yang berdiri disitu maka dipastikan akan ada orang besar semisal bupati yang akan shalat di masjid kami itu.
Perkiraan saya tak meleset,karna yang datang pak bupati cuma bersama dengan pejabat kaliber provinsi,orang nomor duanya Sulawesi Selatan.Bersama dengan pejabat teras kabupaten dan beberapa polisi dan patwal.Dari pemberitahuan sebelum khutbah di mulai akan ada arahan dan penyerahan bantuan untuk masjid kami dari pemrov Sul-Sel.
Materi khutbah yang jelas terekam adalah bagaimana seorang pemimpin dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.Begitu pun dengan berbagai profesi yang lain.Setelah sholat,kami pun menunggu mendengarkan arahan dari wagub.Maklum ini pertama kalinya pak wagub di masjid ini.Mudah-mudahan bukan karna pilgub awal tahun depan sehingga menyempatkan diri hadir di kampung kami.
Untuk pilgub kali ini kemungkinan pasangan incumbent ini,walaupun belum resmi kembali berpasangan namun tampaknya tinggal pendeklarasiannya saja.Tengah gencar bersosialisasi.Menyadari lawan yang kemungkinannya berimbang dari kubu Ilham Arief Sirajuddin berpasangan dengan Ustad Azis Kahar Muzakkar.
Di kampung kami ini cukup banyak yang mengidolakan Azis kahar mudzakkar,terbukti pada waktu pemilihan DPD dulu Azis Kahar menang mutlak dibanding calon anggota DPD lain.Begitu pun ketika dia bertarung di pilgub 2007 sebagai calon gubernur dengan wakilnya Mubil Hamdaling perolehan suaranya tak mengecewakan.Hal itu terjadi tampa ada politik uang.Pemilihnya dengan ikhlas mencoblosnya.Anehnya pada pemilihan DPD,tidak ada tim suksesnya yang bergerak atau memang tidak ada tim suksesnya namun kenapa perolehan suaranya membludak? .
Analisnya faktor ketokohan ayah beliau Kahar Mudzakkar yang menyebabkan orang mendukungnya.Kahar Mudzakkar inilah yang pernah ingin menegakkan syariat islam di sul-sel.Kala itu dia berseberangan dengan pemerintah dan akhirnya masuk hutan bersama pasukannya dan membentuk daulah islamiyah.Setiap kampung yang di datangi ditegakkan ajaran islam.Wajar ketika para pasukannya dan penduduk seluruh desa-desa mengenalnya dan memberikan bantuan dalam penegakan syariat islam di sul-sel.Bayangkan semua pegunungan mulai dari Latimojong sampai bulusaraung,anak buahnya terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok bersenjata.Semua hal yang bertentngan dengan ajaran islam dibasmi.Saat itu masyarakat takut melakukan perbuatan yang melanggar agama karna langsung ditindaki oleh parukan Kahar dulu.
Tak heran bagi masyarakat ketika mendengar ada anak dari KaharMudzakkar ikut dalam prosesi pemilu,maka mereka mencoblos tanda gambarnya.Itulah sebuah nilai yang tak dinafikkan bahwa masyarakat di daerah-daerah masih memiliki nilai historis dengan perjuangan Kahar Mudzakkar.Entah sekarang pemilih dari generasi muda apakah akan terbawa dengan nama besar Kahar ini dan akan juga ikut memilihnya kapan saja dalam setiap tahapan demokrasi tanah air.
Kekuatan dan daya tarik serta nilai histori inilah yang di khawatirkan pasangan gubernur incumbent di kampung kami ini.Tak heran dalam arahannya pak wagub beliau menyampaikan salamnya pak gubernur buat masyarakat kampung kami ini.Penyampain beliau juga tentang keberhasilan mereka membangun Sul-sel dengan berbagai penghargaan yang diterima Sul-Sel dari pusat.Tak kalah gencarnya adalah program pendidikan dan kesehatan gratisnya ini disampaikan yang di klaim telah berhasil membangun sul-sel.
Mudah-mudahan arena pilgub Sul-sel kami damai di awal 2013 nanti walaupun sejak dini para kontestannya telah mencuri star.Mudah-mudahan apa yang disampaikan pak wagub tadi bisa memberikan pencerahan politik bagi kampung kami.Dan tidak berpikiran jika ada maunya barulah menginjakkan kakinya dengan kata lain ada udang dibalik batu.
Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan tapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan.
Thursday, July 26, 2012
Anak IKIP yach
Pengalaman ini terasa sudah cukup lama,namun masih tersave dengan aman di memori otak. Ceritanya bermula ketika saat itu saya harus memilih IKIP dibandingkan universitas negeri lain yang ada di Makassar.Cukup beruntung,karena nama saya tertera lulus UMPTN di IKIP dengan pilihan pertama yakni pendidikan Ekonomi.Suatu kebanggaan bisa lulus dibandingkan teman satu kampung yang tak lulus di universitas negeri.Maklum anggapan lulus di negeri berarti pembayaran tak seberapa.
Proses perkuliahan pun bermula dengan aneka teman dari berbagai daerah dan pelosok se Sul-Sel dan Sulawesi Barat kala itu.Tentunya dengan pemahaman sederhana dari kampung agak bisa kuliah dengan baik dan tentunya penyelesaian kuliah yang tepat waktu.Namanya dari daerah tingkat pergaulan pun masih dibilang terkontrol,belum terkontaminasi dengan pengaruh kehidupan kota yang penuh dengan glamaur dan godaan sesaat.
Penampilan kami pun tampak sederhana.Pakaian yang murah meriah,namun pastinya masih terjamin kebersihannya.Kebanyakan dibawa dari kampung.Jadi tampaknya memang tidak baru.Dalam satu kelas pun tidak ada penampilan teman yang menonjol dalam berpakaian.Dapat ditebak kalau kehidupan mereka di kampung juga pastinya sederhana,walaupun ada juga pastinya yang memiliki sawah dan kebun berhektar-hektar.
Sebagai mahasiswa baru yang telah merasakan denyut roda kehidupan kota metropolitan sekelas Makassar,tentunya gairah untuk berpenampilan agak beda menyeruak.Jadilah kami berempat teman laki-laki ke pasar sentral kala itu.Pilihan ke pasar sentral pun bukan karena tanpa alasan.Ditempat itulah bisa terjadi tawar menawar barang,kalau jeli bisa mendapatkan barang dengan harga murah.Tergantung kepiawaian menawar.Beda dengan mall yang ada saat itu,semua harganya sudah terpasang dan harga pun adakalanya tak cocok dengan kantong mahasiswa daerah.
Di sebuah stand pakaian di lantai dasar menjual aneka pakaian dari baju-baju kaos sampai celana pendek.Agak lama memilih-milih barang,terjadi dialog antara kami dengan pemilik jualan ini.Seorang wanita usia kala itu menurut taksiranku kepala tiga atau kepala dua delapanlah.Dia bertanya anak IKIP ya? .Lho kaget wong kok bisanya tahu atau tebakannya benar.Jawab kami kala itu bukan,kami anak ini,menyebutkan sebuah nama perguruan tinggi swasta ternama di Mks.Akh pasti anak IKIP! ulangnya lagi dengan pasti.Mendengar hal itu kami pun tak mau menanggapi lagi.Gerah berbohong rasanya.Kami pun pura-pura memilih celana pendek,bayar dan langsung ngacir.Perasaan menyesal saya baru timbul sekarang,kenapa saat itu mengingkari institusi yang telah mengantarkan saya sekarang dalam korps Umar Bakrie?
Bagaimana saat sekarang dari beberapa alumni perguruan swasta tadi yang kami sebutkan sebagai almamater itu berlomba-lomba ambil akta IV untuk menjadi guru.Alasannya jurusan mereka tak menyediakan banyak formasi menjadi PNS.Bagaimana seandainya tadi penjual pakaian itu bisa menebak bahwa kehidupan guru dari alumni IKIP sekarang jauh lebih baik dengan sertifikasinya ini? Mungkin tak akan mengulang pertanyaannya dan mungkin akan kuliah juga di IKIP untuk menjadi guru.Analisa sederhana saya penjual pakaian itu bisa menebak dengan tepat dilihat dari penampilan kami yang sangat sederhana.Jauh dari tampilan mahasiswa perguruan swasta yang kami sebutkan.Tentunya mahasiswa swasta ini pun jarang akan bertandang di pasar sentral yang riuh.Pengalamannya berbicara dari instingnya bahwa kebanyakan yang belanja di pasar sentral adalah mahasiswa dari daerah yang kuliah di IKIP kala itu.
Okelah itu jaman dulu saya,separuh berjalannya waktu Ikip berubah menjadi UNM.Jadi saya lulus dengan alumni UNM walaupun subtansinya masih sama dengan IKIP.Intinya walaupun dari Ikip,para alumninya telah unjuk gigi walaupun sudah tak berpenampilan sangat sederhana lagi.Sekian banyak alumninya tersenyum sumringah dibelakang stir avanza,Rush,Terios dan aneka merk mobil lainnya.Alumni IKIP dengan berkah sertifikasinya.Terima kasih almamaterku Institut keguruan ilmu pendidikan Ujung pandang.
salam
Ralla
Indonesia Juara,Madun striker Timnas
Tulisan saya ini bermula dari kegalauan hati melihat keadaan timnas sepak bola.Negara yang begini besar beberapa tahun tak pernah mengecap nikmatnya juara satu.Memiriskan ketika timnas senior harus puas dibantai oleh Bahrain yang notabene pada masa sebelumnya hampir berimbang.Dari rekor pertemuan,silih berganti menang dan kalah,selebihnya seri.
Belum lagi kegagalan timnas U 21 menjuarai turnamen Hasanal Bolkiah.Patut di syukuri karena timnas U 21 ini mencapai final,walaupun harus dikandaskan lagi oleh tuan rumah.Patut di apresiasi perjuangan Andik vermansyah dkk ini.Mereka telah maksimal membela merah putih namun dewi fortuna belum berpihak pada garuda muda.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana publik tanah air bisa terobati dahaga dan puasa gelar selama ini? .Selama ini saya selalu memfavoritkan tim Barcelona selain tentunya timnas.Barcelona selalu memuaskan hati ketika dimana pun mereka bermain.Tak mengenal kandang dan tandang.Tim catalan ini juga mampu memberikan kepuasan maksimal buat pecandu bola.Dimana ketika berbagai turnamen yang di ikuti selalu mempersembahkan juara.Kapan ya timnas permainan dan kolektivitasnya menyamai tim catalan ini? .Entahlah,mungkin sulit jikalau melihat bentrok kepentingan di tubuh PSSI dan Segolongan manusia yang menyatakan diri KPSI.
Saya tidak ingin mengungkit orang-orang yang bertikai di atas,tapi setidaknya mereka punya harga diri demi menegakkan merah putih di mana saja.Tak adakah perasaan malu ketika ketika selalu kalah alias gagal di final.Mereka harus bercermin bahwa untuk berprestasi perlu banyak faktor pendukung.Selama ini saya telah merasa sangat puas melihat timnas runner up.Ketika pergelaran piala APF.Indonesia kalah dari Malaysia.Pesta olahraga Asia tenggara,di final timnas pun lagi-lagi harus takluk atas kedigdayaan Malaysia.Saat itu ekspektasi masyarakat terlalu tinggi pada tim asuhan coach RD.Melihat permainan menawan garuda muda saat itu membantai setiap lawan-lawannya minus Malaysia.Namun itulah hasil akhir.Sepak bola bukan teknik dan kolektivitas namun sepak bola juga adalah medan keberuntungan.
Puas urutan kedua terus,runner up sebutan abadi ?.Jawabnya tentu tidak.Maka saya pun berlelucon seandainya timnas kita memiliki striker sekelas Madun dan kawan-kawannya,dipastikan timnas tak akan paceklik gelar.Siapa itu Madun? .Jika anda selalu memilih channel MNC setiap malam,maka serial Tendangan si Madun ini akan menyapa anda dengan berbagai aksi individu dan tendangan yang akurat.Bukan cuma Madun tapi kawan-kawannya juga.Tak heran ketika buah hatiku doyan menonton acara ini,mungkin berminat jadi pemain bola.Tak apa-apa nak,kalau tendanganmu bisa sekelas tendangan akurat si Madun,ayahmu ini legowo.
Itulah hayalan saya dari dunia sinetron,tapi saya yakin dipersada nusantara ini kelak akan muncul pemain multi talenta termasuk tendangan sekelas tendangannya si Madun.Maka tidak lama lagi sebutanku untuk Indonesia dalam bidang sepak bola sebagai negara Runner up tak berlaku lagi.Selamat tinggal Runner up,selamat datang Madun-Madun Indonesia.
Belum lagi kegagalan timnas U 21 menjuarai turnamen Hasanal Bolkiah.Patut di syukuri karena timnas U 21 ini mencapai final,walaupun harus dikandaskan lagi oleh tuan rumah.Patut di apresiasi perjuangan Andik vermansyah dkk ini.Mereka telah maksimal membela merah putih namun dewi fortuna belum berpihak pada garuda muda.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana publik tanah air bisa terobati dahaga dan puasa gelar selama ini? .Selama ini saya selalu memfavoritkan tim Barcelona selain tentunya timnas.Barcelona selalu memuaskan hati ketika dimana pun mereka bermain.Tak mengenal kandang dan tandang.Tim catalan ini juga mampu memberikan kepuasan maksimal buat pecandu bola.Dimana ketika berbagai turnamen yang di ikuti selalu mempersembahkan juara.Kapan ya timnas permainan dan kolektivitasnya menyamai tim catalan ini? .Entahlah,mungkin sulit jikalau melihat bentrok kepentingan di tubuh PSSI dan Segolongan manusia yang menyatakan diri KPSI.
Saya tidak ingin mengungkit orang-orang yang bertikai di atas,tapi setidaknya mereka punya harga diri demi menegakkan merah putih di mana saja.Tak adakah perasaan malu ketika ketika selalu kalah alias gagal di final.Mereka harus bercermin bahwa untuk berprestasi perlu banyak faktor pendukung.Selama ini saya telah merasa sangat puas melihat timnas runner up.Ketika pergelaran piala APF.Indonesia kalah dari Malaysia.Pesta olahraga Asia tenggara,di final timnas pun lagi-lagi harus takluk atas kedigdayaan Malaysia.Saat itu ekspektasi masyarakat terlalu tinggi pada tim asuhan coach RD.Melihat permainan menawan garuda muda saat itu membantai setiap lawan-lawannya minus Malaysia.Namun itulah hasil akhir.Sepak bola bukan teknik dan kolektivitas namun sepak bola juga adalah medan keberuntungan.
Puas urutan kedua terus,runner up sebutan abadi ?.Jawabnya tentu tidak.Maka saya pun berlelucon seandainya timnas kita memiliki striker sekelas Madun dan kawan-kawannya,dipastikan timnas tak akan paceklik gelar.Siapa itu Madun? .Jika anda selalu memilih channel MNC setiap malam,maka serial Tendangan si Madun ini akan menyapa anda dengan berbagai aksi individu dan tendangan yang akurat.Bukan cuma Madun tapi kawan-kawannya juga.Tak heran ketika buah hatiku doyan menonton acara ini,mungkin berminat jadi pemain bola.Tak apa-apa nak,kalau tendanganmu bisa sekelas tendangan akurat si Madun,ayahmu ini legowo.
Itulah hayalan saya dari dunia sinetron,tapi saya yakin dipersada nusantara ini kelak akan muncul pemain multi talenta termasuk tendangan sekelas tendangannya si Madun.Maka tidak lama lagi sebutanku untuk Indonesia dalam bidang sepak bola sebagai negara Runner up tak berlaku lagi.Selamat tinggal Runner up,selamat datang Madun-Madun Indonesia.
Salam
Ralla.
Ralla.
Subscribe to:
Posts (Atom)