Friday, August 31, 2018

Buku mengungkap tabir to Balo di tanah bentong

Mengungkap Tabir To Balo di Tanah Bentong

Bagi rumpun keluarga to balo (manusia belang), to berarti manusia dan balo artinya belang.Terlahir dengan kulit belang secara turun temurun adalah kepercayaan mereka sebagai kutukan dan nazar dari nenek moyangnya dulu.

Mereka menerima keadaan itu apa adanya. Kehadiran mereka menjadikankomunitas yang unik yang ada di pelosok Kabupaten Barru. Komunitas ini dianggap memiliki kesaktian berkat kulit belang yang mereka miliki. Jumlah to Balo ini dipercayai tidak pernah lebih dari angka 10. Jika melewati angka itu, maka salah satunya akan meninggal. Entah sakit atau dengan melalui cara lainnya. Selain itu, kearifan lokal komunitas ini membuatnya dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Anak keturunan mereka pun mulai mengecap pendidikan layaknya masyarakat pada umumnya. Akankah mitos asal usul mereka dan rahasia jumlah mereka yang tak akan lebih dari 10 orang tetap mereka yakini?. Silahkan baca buku ini untuk menambah khazanah pengetahuan anda.

Harga 50 K
Penulis Darwis Kadir.
Telpon : 085255535350

Monday, May 23, 2016

LAPPA LAONA - AIR TERJUN AMPIRI

Lappa launa masih mengesankan buat kami. Sebuah tempat padang rumput di dusun Waruwue,Labajang Tanete Riaja yang menjadi favorit para pencinta alam dari berbagai daerah di barru. Seingatku terakhir pasang tenda di tahun 2005. Beberapa kali lewat di lokasi ini namun tidak bermalam dan menikmati bintang-bintang di langitnya.

Kali ini kami berlima pun sepakat untuk merefres diri bermalam semalam di Lappa launa dan esoknya berencana ke air terjun di dusun Ampiri kecamatan Pujananting. Lokasi cukup berdekatan. Hujan sore hari tak menyurutkan langkah sembari berteduh kami pun menyiapkan rencana. Sepertinya hujan tak mau reda walau sudah rinai-rinai,kami pun sepakat menerobos hujan.

Petang pun berakhir ketika kami sampai di perbatasan Barru-Soppeng,belok kanan menuju Waruwue menepobos malam yang mulai gulita.Jalanan aspal yang mulai mengelupas menyulitkan perjalanan kami. Jalanan licin dengan genangan air membuat nyaris terjatuh.
Ternyata jalan paling parah ketika menuju Labajang Lappa launa. Jalan pendakian dengan tanah becek. Grip ban motor kami kesulitan melewati jalan tanah becek.Terjatuh dan hampir nyaris terjatuh beberapa kali. Dengan susah payah dan perjuangan ekstra kami pun sampailah di padang rumput ini.

Beruntung malam ini ramai berhubung rombongan mobil offroad dari makassar menggelar acara tersendiri.Mereka memasang tenda dengan mengatur mobil mereka membentuk lingkaran.

Kami pun memasang tenda agak menjauh di atas bukit. Memasak nasi campur mie instant plus ikan bakar kering. Mantap mana lagi kopinya.Dan jadilah malam itu kami menikmati cuaca malam dan bintang pun masih malu menampakkan dirinya. Dikejauhan sana kota Barru dengan nampak dengan kilauan lampu. Lappa launa adalah hamparan padang rumput tempat yang recomended buat camping tanpa menguras banyak energi karena bisa dijangkau kendaraan. Lebih mudah ketika kemarau cuma sumber airnya kering. Besoknya fose wajib menunggu sunrise. Mengabadikan berbagai latar demi sebuah pembuktian bahwa alam pun di patut ekspos.

Puas mengabadikan berbagai moment dan fose kami pun kembali ke tenda memasak mie dan membakar ikan kering di balik batu besar mengandalkan ranting-ranting kayu lembab pengaruh hujan kemarin. Aromanya pun menyengat harum bangkitkan selera makan. Hawa yang dingin membuat kami pun lahap. Mobil offroad itu di bawah bukit sana tampaknya berkemas dan mereka pun mengabadikan mobilnya dan di atur setengah lingkaran. Mereka bergantian mengabadikan moment itu.

Tak lama kami membongkar tenda dan pagi itu menuju air terjun. Untuk sampai ke sana kami harus berjuang kembali melewati jalanan tanah nan becek. Ada sekitar 2 kiloan dari Lappa launa menuju dusun Ampiri. Di sekitar ini juga tapal batas kecamatan Tanete Riaja dan kecamatan Pujananting. Lama berkutat pada jalanan becek akhirnya jalanan beraspal terkelupas pun kami dapatkan. Mencari penduduk untuk bertanya lokasi air terjun ini. Seorang pemuda mahasiswa berkenan mengantar kami sampai pada jalanan tani yang letaknya di atas pemukiman penduduk.

Sang mahasiswa tadi mohon maaf tak bisa mengantar karena ada pekerjaan yang harus dilakukannya. Ok,terima kasih. Kami menyusuri jalanan tanah sesuai petunjuknya. Melalui sawah kemudian penurunan pada lembah bukit yang kebetulan penduduk sedang panen kacang tanah. Mereka pun senang hati memberi petunjuk.Lereng bukit digarap penduduk sebab air yang mengalir dari dua air air terjun. Yang sebelah kiri orang sana menamakannya wae luttue dan yang satunya menurut kami wae bebbe'e karena mengalir merembes namun kelihatan besar dari tempat kami berdiri.

Kali ini kami memilih dulu air terjun sebelah kiri. Kami harus mendaki bukit tempat tebing-tebing batu air terjun ini. Cukup melelahkan dalam kondisi terik tak ayal air sungai kecil kami minum. Abaikan dulu kriteria air bersih. Tubuh perlu cairan dan pencinta alam harus begitu,mengandalkan alam tuk hidup. Airnya tampak jernih dan segar mengalir di sela bebatuan berlumut. Gemericiknya itu biking tenang. Merendamkan kaki di air membuat rasa letih berkurang menambah semangat.

Area tanaman penduduk pun kami lewati mengikuti selang air dan memasuki pepohonan lebat nan lembab. Lama merintis jalan menebas sulur dan memang tampaknya belum ada jalanan meyakinkan. Maklum saja hanya beberapa orang yang pernah kesini. Para penduduk pun lebih pilih bercocok tanam ketimbang mencari objek wisata.Wajar kalau bebera kali kami harus turun naik mencari jalanan yang tepat. Beberapa tanaman perdu berduri menggores kulit kami. Sialnya sandal gunung saya putus tengah jalan. Terpaksa menggunakan kulit asli alias telanjang kaki menjejaki rimba.

Sepertinya ini rimba mirip pada cerita anak perawan di sarang penyamun. Sinar mentari terhalang pepohonan.Lelah dengan putar-putar mengandalkan insting suara gemuruh pun terdengar. Kami pun tinggal mengikuti suara itu.

Dan perjuangan berbuah hasil air terjun ini pun kami jumpai mengalir jatuh dari tebing yang berpuluh-puluh meter tingginya. Lebih tinggi dari wae sai.Sayangnya airnya mulai menyusut namun tetap recomended di datangi. Yang menarik karna air kelihatan melayang jatuh menerpa bebatuan besar. Disekitarnya tumbuh jenis bunga-bunga dominasi warna kuning. Entah bunga apa namanya.
Mengabadikan moment itu pasti. Aneka fose. Memuaskan diri sebelum kembali. Menjumpai bekas perapian teman yang pernah kesini. Rata-rata dibalik batu besar. Sepertinya api sulit dihidupkan karena hawa dingin plus uap-uap air yang jatuh.

Ada tempat yang landai cocok memasang tenda namun sayangnya hawa sangat dingin karena embun-embun dan tempias air terjun tersebut.

Rasanya masih mau betah namun mendung menggelayuti kami memaksa angkat kaki untuk kembali. Air terjun ini bisa anda kunjungi ketika musim penghujan karna debitnya yang besar. Bermalam di Lappa launa dan besoknya anda datang ke sini. Atau langsung ke sini kemudian pulangnya bisa lewat Lappa launa.

Untuk datang ke lokasi ini bisa di akses lewat dusun Ammerung via ibu kota kecamatan pujananting Doi-doi dan pulangnya bisa lewat Lappa launa dusun Waruwue kecamatan tanete Riaja dan tembus perbatasan bulu dua Barru- Soppeng. Musim kemarau perjalanan pasti menyenangkan karena jalanan kering. Jika anda mau summit di puncak 3 dan Coppo tille tinggal meneruskan perjalanan ke dusun Ammerung untuk mendaki dan happy di puncak Tille.

Friday, May 20, 2016

Aku juga PNS....

Seingatku minggu ini di kalangan pns struktural dan fungsional ada beberapa isu hangat di lingkungan kami. Yang pertama untuk fungsional guru tema mereka kapan tunjangan sertifikasi cair. Dan tema yang ke dua bagi pns struktrul dan pns fungsional bukan guru adalah tentang bunga bank atau suku bunga bank yang sedang turun. Disini tema pertama saya tak akan bahas toh pastinya juga akan cair. Mau kemana kalau tak dicairkan,jadi rekan-rekan guru sergur santai saja.

Ok tema kedua,menarik suku bunga turun. Para pns yang membutuhkan uang kontan pastilah tergiur untuk menggadaikan sk pnsnya atau menambah pinjamannya. Faktor berbagai kepentingan dengan kemudahan pihak bank ditambah suku bunga rendah membuat para pns berprinsip kapan lagi kalau bukan sekarang.

Beberapa teman menyampaikan pada saya untuk segera menyambung pinjaman pada salah satu bank. Saya pikir pinjaman saya baru 3 tahun berjalan. Berapa sih sisanya yang dapat saya kantongi. Tapi sebenarnya jujur disitu bukan intinya. Sejak ada postingan tentang riba dan bunga bank di medsos saya kemudian jadi mikir.

Walau sebenarnya masalah ini ada yang menganggap riba bank itu haram serta ada juga beranggapan sah-saja dilakukan. Saya tidak berada pada kapasitas ini untuk menjelaskan hukumnya.Namun kenapa kemudian saya hanya fokus untuk menyelesaikan pinjaman saya yang terlanjur.

Memilih jalan berhati-hati adalah tepat,ini kredeo saya. Di luar pasti banyak akan mengatakan dimana lagi kita bisa dapat uang tunai kalau bukan pinjaman bank. Ada juga pendapat mengatakan beberapa orang yang mengerti agama juga melakukan pinjaman pada bank. Sah-sah saja karena mereka berhak melakukan apa saja dan mengatur hidupnya resikonya juga mereka yang tanggung.Lebih menarik ketika ada yang mengatakan kalau riba atau bunga bank dilarang agama kenapa kemudian negara ikut melegalkan kredit dan riba bank. Termasuk pada bank-bank BUMN?. Sepertinya hukum agama belum berkorelasi dengan pemerintah yang penduduknya mayoritas agama tertentu.Emang benar.

Jadi kenapa ? Ini masalah hanya saya fokuskan pada diriku. Bukan pada anda semua.Ketika minat orang lain tinggi melakukan kredit di bank,maka di lain sisinya minat saya semakin turun walau bunga bank juga semakin turun. Biarlah aku apa adanya.Cukuplah khilafku di masa lalu.

Bagaimana pendapat anda dari tinjauan ekonomi, sosiologis kultural dan tinjauan dari agama ? Apakah pola pikir kita sama ?. Atau Mungkin tidak. Maaf teman ajakanmu kali ini saya tolak. Entah suatu masa aku berubah pikir maka hanya Allah lah yang tahu kelak. Semoga saja tidak !.